Chiko yang mendengar cerita Lynx langsung kaget dan bersyukur karena tidak terjadi apapun kepada mereka berdua. lain halnya dengan Sherly, Ia merasa seharusnya buaya itu langsung membunuh Leena agar tidak menjadi penghalangnya lagi.

Lynx menjelaskan, buaya yang mereka temui tidak sebesar yang sebelumnya. Dia yakin ini adalah buaya yang berbeda, membuat mereka menyadari ada banyak buaya di tempat tersebut.

Saat Lynx dan Leena beristirahat di gua untuk menenangkan diri, Leena menatap Lynx dengan penuh rasa syukur dan terima kasih. Ia masih tidak percaya Lynx rela bertarung melawan buaya hanya untuk menyelamatkannya.

"Lynx, terima kasih... terima kasih karena kau sudah menyelamatkanku," ujar Leena dengan suara bergetar, air mata bahagia mengalir di pipinya.

Lynx tersenyum lembut, lalu mengelus pipi Leena dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu, Leena. Kau terlalu berharga bagiku." sambil memeluk Leena.

Leena membalas pelukan Lynx, menyalurkan segala rasa terima kasihnya. Ia merasa sangat beruntung memiliki Lynx di sisinya, seseorang yang rela mengorbankan dirinya demi keselamatan Leena.

"Aku... aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu, Lynx," ujar Leena di sela-sela isakannya.

Lynx tersenyum, lalu mengecup lembut kening Leena. "Kau tidak perlu membalas apa-apa, Leena. Keberadaanmu di sisiku sudah lebih dari cukup bagiku."

Leena mendongak, menatap Lynx dengan pandangan tulus. "Tapi aku ingin melakukan sesuatu untukmu, Lynx. Aku ingin kau tahu betapa berharganya dirimu untukku."

Lynx balas menatap Leena, lalu berkata, "Kau tidak perlu melakukan apa-apa, Leena. Cukup dengan kau berada di sampingku, itu sudah lebih dari cukup."

Leena tersenyum, lalu berkata, "Tapi aku ingin melakukan sesuatu untukmu, Lynx. Aku ingin membuatmu bahagia, seperti bagaimana kau membuatku bahagia."

Lynx lalu menjawab dengan nada bercanda “Kamu bisa membuatku bahagia dengan menyingkirkan semua pakaian kulit hewan itu agar aku bisa menikmati lagi pemandangan indah seperti…. “ belum selesai Lynx menjawab, Leena sudah mencubit lengannya dengan wajah memerah. Dia teringat kembali masa-masa di awal kehidupan mereka yang penuh kesulitan hingga tidak memiliki pakaian sehelaipun.

“Lynx, kenapa kamu masih suka bercanda di situasi seperti ini” Kata Leena sambil cemberut.

Lynx menatap Leena dengan lembut, lalu berkata, "Kau sudah membuatku bahagia hanya dengan keberadaanmu, Leena. Aku tidak butuh apa-apa lagi."

Leena terdiam sejenak, lalu tiba-tiba ia mencium Lynx dengan lembut. Lynx terkejut, namun kemudian ia membalas ciuman Leena dengan penuh kasih sayang.

Mereka berdua larut dalam ciuman yang manis itu, melupakan segala masalah yang tengah mereka hadapi. Saat itu, hanya ada mereka berdua, tenggelam dalam kebahagiaan yang mereka rasakan.

Setelah beberapa saat, mereka akhirnya melepaskan ciuman itu. Leena menatap Lynx dengan pandangan penuh cinta, lalu berbisik, "Terima kasih, Lynx. Terima kasih karena kau selalu ada untukku."

Lynx tersenyum lembut, lalu membelai pipi Leena dengan penuh kasih sayang. "Aku akan selalu ada untukmu, Leena. Aku berjanji."

Mereka berdua kembali berpelukan, menikmati kebersamaan mereka. Saat itu, segala masalah yang tengah mereka hadapi seakan lenyap, tergantikan oleh kebahagiaan yang mereka rasakan.

Namun, tanpa mereka sadari, Sherly mengawasi mereka dari kejauhan, amarah terpancar jelas di wajahnya. Gadis itu mengepalkan tangannya dengan erat, tidak rela melihat Lynx bersama Leena.

"Tidak! Ini tidak boleh terjadi!" geram Sherly, lalu ia menendang daun daun kering disekitar, melampiaskan emosinya.

Sementara itu, Chiko hanya bisa memperhatikan Sherly dengan perasaan sedih. Ia tahu bahwa Sherly telah kehilangan akal sehatnya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Chiko hanya berharap, suatu hari nanti, Sherly bisa melihat betapa tulus perasaannya.

Keesokan harinya, Leena terbangun dengan perasaan yang lebih ringan. Ia tersenyum saat mengingat kejadian kemarin, di mana Lynx menyelamatkannya dari serangan buaya. Leena merasa sangat bersyukur memiliki Lynx di sisinya.

Saat Leena keluar dari gua, ia melihat Lynx sedang memperbaiki jebakan di dekat pintu masuk. Gadis itu tersenyum, lalu mendekati Lynx.

"Pagi, Lynx," sapa Leena dengan riang.

Lynx menoleh, lalu membalas senyuman Leena. "Pagi juga, Leena. Bagaimana tidurmu?"

"Sangat nyenyak," jawab Leena. "Terima kasih lagi, Lynx. Kau benar-benar menyelamatkanku kemarin."

Lynx tersenyum, lalu menggenggam tangan Leena. "Aku akan selalu ada untukmu, Leena. Itu janjiku."

Leena membalas genggaman tangan Lynx, lalu berkata, "Aku tahu, Lynx. Dan aku sangat bersyukur ada dirimu disini."

Mereka berdua saling menatap dengan penuh kasih sayang, seakan dunia hanya milik mereka berdua. Namun, tiba-tiba suara Sherly menginterupsi kebersamaan mereka.

"Lynx! Apa yang kau lakukan dengan Leena?" seru Sherly dengan nada marah.

Lynx dan Leena langsung menoleh, mendapati Sherly berdiri tidak jauh dari mereka, menatap mereka dengan pandangan penuh kecemburuan.

"Sherly, aku hanya berbicara dengan Leena," jawab Lynx dengan tenang.

Sherly mendengus, lalu berjalan menghampiri Lynx. "Tapi kenapa kau harus berbicara dengannya? Bukankah aku yang lebih penting bagimu?"

Leena menatap Sherly dengan pandangan tidak suka. "Sherly, jangan bersikap seperti itu. Lynx berhak berbicara dengan siapa saja."

Sherly balas menatap Leena dengan tajam. "Diam kau, Leena! Kau tidak berhak mengatur-atur Lynx!"

Lynx berusaha melerai. "Sudahlah, kalian berdua. Jangan bertengkar lagi."

Namun, Sherly tidak mau mendengar. Ia terus menyerang Leena dengan kata-kata pedas. "Kau pikir kau bisa merebut Lynx dariku, huh? Mimpi saja!"

Leena merasa marah, namun ia berusaha untuk tetap tenang. "Sherly, aku tidak merebut siapa-siapa. Lynx berhak memilih siapa yang ia sukai."

Sherly tertawa sinis. "Hah, jangan bercanda. Lynx hanya akan memilihku, bukan gadis lemah sepertimu!"

Lynx menghela napas, lalu berkata, "Sherly, hentikan. Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu seperti ini."

Sherly menatap Lynx dengan pandangan memohon. "Tapi Lynx, aku mencintaimu. Kenapa kau lebih memilih Leena?"

Lynx menatap Sherly dengan lembut. "Sherly. Kumohon kalian berhenti meributkan hal ini, ada banyak masalah didepan kita." Kata Lynx.

Meskipun Lynx ingin mengatakan lebih tegas ke Sherly bahwa dia sebenarnya sudah memilih Leena, namun hubungannya dengan Leena masih seperti teman dekat. Lynx merasa belum ada keberanian dan belum tepat waktunya untuk mengungkapkan perasaan secara langsung.

Sherly terdiam, lalu tiba-tiba ia pergi meninggalkan Lynx dan Leena. Gadis itu merasa kesal karena tidak berhasil memisahkan Lynx dan Leena.

Leena menatap kepergian Sherly. Ia tahu bahwa Sherly pasti sangat terluka, tapi ia juga tidak bisa memaksa Lynx untuk membalas perasaan Sherly.

Lynx menatap Leena, lalu berkata, "Maafkan aku, Leena. Aku tahu dirimu pasti tidak nyaman dengan kata-kata Sherly. Tapi disini kita harus tetap bekerja sama"

Leena tersenyum lembut, lalu berkata, "Aku mengerti, Lynx. Kau tidak perlu meminta maaf. Selain itu bukankah aku juga yang mengajak mereka bergabung karena menginginkan kita tidak sendirian disini."

Lynx membalas senyuman Leena, lalu berkata, "Terima kasih, Leena. Aku bersyukur dirimu selalu bisa mengerti."

Sementara itu, Sherly berjalan sendirian di hutan. Gadis itu merasa sangat terluka dan kecewa. Ia masih memikirkan cara untuk mendapatkan Lynx, dan menjauhkan Leena darinya.

Sherly terus berjalan tanpa arah, tenggelam dalam kesedihannya. Ia merasa sangat marah pada Leena, gadis yang dianggapnya telah merebut Lynx darinya.

"Leena, aku tidak akan membiarkanmu memiliki Lynx!" seru Sherly. "Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Lynx kembali!"

Dengan tekad yang membara, Sherly kembali ke gua, berniat mencari cara untuk memisahkan Lynx dan Leena. Gadis itu tidak akan menyerah begitu saja, ia akan terus berjuang untuk mendapatkan Lynx, bahkan jika harus melakukan hal yang jahat sekalipun.

Sementara itu, Chiko yang menyaksikan semua kejadian itu hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu bahwa Sherly telah kehilangan akal sehatnya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Chiko hanya berharap, suatu hari nanti, Sherly bisa melihat betapa tulus perasaannya.

Tiba-tiba Sherly mendekati Chiko dengan tatapan tajam. "Chiko, kita perlu bicara."

Chiko menoleh, menatap Sherly dengan rasa was-was. "Ada apa, Sherly?"

Sherly memandang Chiko dengan sorot mata menuntut. "Jangan pernah coba-coba untuk memberitahu Lynx dan Leena tentang gua yang dulu kita tempati. Aku tidak mau kamu kelepasan lagi membicarakan tentang tempat kita"

Chiko mengerutkan kening, merasa bingung. "Tapi Sherly, kenapa kita harus menyembunyikannya?"

Sherly mendengus. "Kau tidak ingat? Di gua itu ada gambar-gambar aneh yang mungkin menunjukkan ke arah harta karun. Aku ingin mencarinya bersama denganmu, bukan dengan Lynx dan Leena."

Chiko terdiam sejenak, lalu berkata ragu, "Tapi Sherly, apa kau yakin ada harta karun di sana? Kita bahkan tidak tahu apa arti gambar-gambar itu."

Sherly menatap Chiko dengan tajam. "Dengar, Chiko. Kau harus tutup mulut soal gua itu. Aku tidak ingin Lynx dan Leena ikut campur. Ini hanya untuk kita berdua."

Chiko menunduk, merasa tidak nyaman. "Tapi Sherly, bukankah lebih baik jika kita memberitahu yang lain? Siapa tahu mereka bisa membantu kita."

Sherly mendesis, "Kau berani membantahku, Chiko? Ingat, kau sudah berjanji akan menuruti apapun keinginanku."

Chiko terdiam, menyadari bahwa ia tidak bisa melawan Sherly. Gadis itu memiliki kendali penuh atas dirinya.

"Baiklah, Sherly. Aku tidak akan memberitahu siapa pun," ujar Chiko dengan nada pasrah.

Sherly menyeringai puas. "Bagus. Aku tahu kau bisa diajak bekerja sama." Ia lalu menambahkan dengan nada misterius, "Kita akan menemukan harta karun itu, Chiko. Dan itu hanya untuk kita berdua, bukan untuk Lynx dan Leena."

Chiko menatap Sherly dengan ragu. "Tapi Sherly, apa kau yakin kita bisa menemukan sesuatu yang berharga di sana? Kita bahkan tidak tahu apa-apa soal gua itu."

Sherly mengibaskan tangannya. "Jangan khawatir, Chiko. Aku yakin kita bisa menemukan sesuatu yang bisa membantu kita keluar dari pulau ini. Dan itu hanya untuk kita, bukan untuk mereka."

Chiko terdiam, tidak yakin dengan rencana Sherly. Ia tahu bahwa apa yang mereka lakukan bisa berbahaya, tapi disisi lain, ia tidak ingin mengecewakan Sherly. Chiko menghela napas panjang, lalu berkata, "Baiklah, Sherly. Aku akan membantumu."

Sherly tersenyum puas. "Bagus, Chiko. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu." Ia lalu menepuk pundak Chiko, seolah memberi penghargaan.

Dalam hati, Chiko merasa tidak nyaman dengan rencana Sherly. Tapi ia tidak bisa menolaknya, karena ia masih berharap Sherly bisa membalas perasaannya suatu hari nanti.

Sementara Sherly sendiri sebenarnya menginginkan agar Lynx bisa menjadi miliknya dan bisa membantunya mendapatkan harta karun tersebut. Karena itu dia ingin menyingkirkan Leena, setelah itu dia berniat menyingkirkan Chiko agar tidak menjadi penghalang dirinya kelak.

Setelah kejadian mengerikan dengan buaya di sungai, Lynx semakin menyadari betapa lemahnya mereka dalam menghadapi alam liar di pulau ini. Selain buaya, ia juga teringat akan pertempuran mereka dengan macan tutul yang ganas, serta cerita Chiko dan Sherly tentang hewan-hewan buas lainnya yang ukurannya tidak biasa.

Lynx terdiam, memikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa lebih siap menghadapi ancaman alam di sekitar mereka. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Leena terluka parah atau bahkan kehilangan nyawa karena serangan hewan buas.

Dengan tekad yang bulat, Lynx memutuskan untuk lebih memahami lingkungan di sekitar gua tempat mereka tinggal. Ia akan mengamati perilaku hewan-hewan liar, mencoba mengidentifikasi potensi bahaya yang mungkin mengancam mereka.

Pagi itu, Lynx bangun lebih awal dari yang lain. Ia berjalan keluar gua, mengedarkan pandangan ke seluruh area sekitar. Matanya awas memperhatikan setiap gerakan, setiap suara, dan setiap tanda-tanda keberadaan makhluk hidup lain.

Tak lama kemudian, Lynx melihat sesuatu yang mencurigakan di semak-semak tidak jauh dari gua. Ia dengan hati-hati mendekati area itu, menggenggam erat tongkat yang biasa ia bawa. Perlahan-lahan, Lynx mengintip ke balik semak, dan menemukan seekor tikus hutan yang tampak sudah tidak bergerak.

Lynx mengerutkan kening, lalu berjongkok untuk memeriksa tikus itu lebih dekat. Ia memperhatikan tubuh tikus yang kaku, serta bercak-bercak ungu di sekitar mulutnya. Lynx menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

"Aneh, kenapa tikus ini bisa mati?" gumamnya, lalu mulai mengamati lebih seksama area sekitar tempat tikus itu ditemukan.

Tak jauh dari sana, Lynx menemukan sebuah tanaman dengan bunga berwarna ungu yang mencolok. Ia mengamati tanaman itu dengan seksama, mencoba mengingat-ingat apakah pernah melihat jenis tanaman serupa sebelumnya.

"Mungkinkah tanaman ini yang menyebabkan tikus ini mati?" Lynx bergumam, lalu dengan hati-hati memetik salah satu daun dari tanaman itu.

Ia membawa daun itu kembali ke gua, berniat untuk mengujinya. Mungkin saja tanaman itu mengandung racun yang berbahaya bagi mereka.

Saat Leena dan Chiko terbangun, Lynx segera memanggil mereka.

"Leena, Chiko, ayo bantu aku melakukan eksperimen," ujar Lynx dengan nada serius.

Leena dan Chiko saling berpandangan, lalu menghampiri Lynx. "Ada apa, Lynx?" tanya Leena.

Lynx menunjukkan daun tanaman ungu yang tadi ia temukan. "Aku menemukan tikus hutan mati di dekat tanaman ini. Aku curiga tanaman ini mengandung racun yang berbahaya."

Chiko mengerutkan kening. "Racun? Apa kau yakin, Lynx?"

Lynx mengangguk. "Ya, aku ingin mencoba mengujinya. Kita harus tahu apakah tanaman ini aman atau tidak."

Leena tampak ragu-ragu. "Tapi, Lynx... Apa tidak berbahaya jika kita mencoba mengujinya?"

Lynx tersenyum menenangkan. "Tenang saja, Leena. Kita akan berhati-hati dan mencobanya pada hewan-hewan kecil."

Chiko mengangguk setuju. "Baiklah, aku akan membantu. Apa yang bisa aku lakukan?"

Lynx tersenyum lega. "Terima kasih, Chiko. Kita harus mencari beberapa hewan kecil untuk dijadikan subjek uji coba."

Mereka bertiga lalu bergegas keluar gua, mencari hewan-hewan yang bisa mereka gunakan untuk eksperimen. Setelah beberapa saat, mereka berhasil menemukan beberapa serangga dan tikus kecil.

Dengan hati-hati, Lynx mulai memberikan daun tanaman ungu itu pada hewan-hewan tersebut. Ia mengamati reaksi mereka dengan seksama, mencatat setiap perubahan yang terjadi.

Namun, setelah beberapa jam, tidak ada perubahan yang signifikan pada hewan-hewan itu. Lynx mengerutkan kening, merasa sedikit kecewa.

"Aneh, kenapa tidak ada efeknya?" gumamnya.

Leena menepuk pundak Lynx. "Mungkin tanaman itu tidak terlalu berbahaya, Lynx. Bisa jadi hewan itu terkena racun ditempat lain.”

Lynx mengangguk setuju lalu berkata “Selain karena khawatir ada yang berbahaya disekitar tempat tinggal kita, aku juga sebenarnya berpikir ingin membuat racun yang dapat kita gunakan sebagai tambahan perlindungan, hutan ini terlalu berbahaya. Kita perlu lebih banyak persiapan.”.

Chiko menambahkan, "Kau benar Lynx, ide bagus untuk memiliki tambahan perlindungan tambahan. Aku juga akan membantu Lynx. Ini demi keselamatan kita semua."

Saat Lynx, Leena, dan Chiko kembali sibuk melanjutkan eksperimen mereka, Sherly hanya duduk di sudut gua, memperhatikan mereka dengan pandangan tidak suka.

Malam harinya, mereka berkumpul di depan api unggun sambil membicarakan eksperimen mereka yang masih gagal. Lynx memandang catatannya yang terbuat dari kulit pohon ditulis menggunakan arang. Melihat sisa beberapa helai daun tanaman ungu yang dibawanya, Lynx melemparkan daun tersebut ke dalam api unggun yang sedang menyala dengan kesal. Segera, asap tebal mengepul keluar, membuat mereka semua terkejut.

"Astaga, Lynx! Apa yang kau lakukan?" seru Leena panik.

Lynx juga terkejut melihat asap yang dihasilkan. "Maaf, aku tidak sengaja. Ayo, kita menjauh dari sini!"

Namun, terlambat. Mereka semua sudah menghirup asap itu, dan perlahan-lahan mulai merasakan efeknya.

Tiba-tiba, Leena melihat sosok Lynx berubah menjadi seekor macan tutul yang mengaum dengan garang. Gadis itu memekik ketakutan dan segera berlari menjauh.

"Tidak! Pergi kau, macan tutul!" teriak Leena sambil terus berlari.

Lynx, yang melihat reaksi Leena, merasa bingung. "Leena, apa yang terjadi? Aku di sini!"

Namun, Leena tidak mendengarkan. Ia terus berlari, seolah-olah sedang dikejar oleh sesuatu.

Sementara itu, Chiko mulai melihat Sherly berubah menjadi sosok raksasa yang menyeramkan. Pemuda itu gemetar ketakutan, lalu bersembunyi di sudut gua.

"Sherly... kau bukan Sherly yang kukenal," gumam Chiko dengan suara gemetar.

Sherly, yang melihat reaksi Chiko, merasa heran. "Chiko, apa yang terjadi denganmu?"

Namun, Chiko tidak menjawab. Ia terus meringkuk di sudut, ketakutan.

Lain halnya dengan Sherly. Tidak lama setelah melihat reaksi Chiko, Gadis itu justru melihat pemandangan yang berbeda. Ia melihat Lynx berdiri di hadapannya, tersenyum lebar dan merentangkan tangannya.

"Sherly, akhirnya hanya kita berdua," kata Lynx dengan nada menggoda.

Sherly tertawa senang, lalu segera menghambur ke pelukan Lynx. "Lynx, aku tahu kau akan memilihku!"

Sementara itu, Lynx sendiri justru melihat pemandangan yang mengerikan. Ia melihat Leena, Sherly dan Chiko terbaring tak bernyawa, dengan luka-luka parah di tubuh mereka.

"Tidak! Leena, Sherly, Chiko!" teriak Lynx histeris.

Pemandangan itu membuat Lynx sangat terguncang. Ia jatuh terduduk, air mata mengalir di pipinya. "Tidak... ini tidak mungkin..."
